Senin, 02 Desember 2019

OBROLAN WARUNG KOPI PENDEKAR


SRIKANDI  CEMPAKA PUTIH
“ O W K P ”
OBROLAN WARUNG KOPI PENDEKAR
   “Kopi jaenipun pakdhe, jangan terlalu banyak jahenya, makek gula aren saja”
   “wah tumben siang baru njedul, biasanya esuk umun-umun, nembe dugi tho anakmas, oya tunggu, baru saya panaskan airnya, gulanya diaduk atau di pisah”
   “dipun pisah mawon pakdhe“
   Wibowo yang baru masuk menghempaskan badanya kekursi panjang di dekat jendela, tempat duduk kesukaanya.
   Duduk dekat jendela karena dari daun pintunya yang terbuka itu pandangan matanya bebas memantau hamparan persawahan bahkan sampai jauh di lembah bawah, warung kopi yang strategis, mirip seperti menara pandang.
   Hari sudah tidak lagi pagi, beranjak ke siang, namun masih terlalu dingin, bahkan sinar matahari belum sempurna bersinar, awan di timur menghalangi cerahnya cahaya mentari, kalau pas lagi musim kemarau, jam segini sudah panas suhu udaranya.
   Semalaman daerah Panekan dan sekitarnya di guyur hujan lebat, sejak tengah malam sampai lewat subuh.
   Sejak musim pilihan lurah kepala desa, hujan enggan turun, awan yang sudah berkumpul selalu saja diusir angin lumaris yang tak rela bumi dibasahi air anugerah, sehingga hujan tak kunjung turun lebih dari enam bulan, setengah tahun yang kerontang.
    Dan Desember ini, musim hujan telah tiba, setiap hari bumi diguyur lebatnya air gratis, sehingga tanah retak kerontang itu basah sudah.
   Dan bagai disulap, tak sampai sepekan, bumi Jawadwipa kembali segar dan sejuk udaranya, nyaman mendamaikan, lembah gunung Lawu kembali menghijau, tanah retak berdebu kini jadi basah sudah.
   Tanah yang menjadi sangat subur, tanah gembur basah yang memberikan sejuta harapan bagi kaum petani, kaum pejuang kehidupan.
  Nampak dari lembah, jajaran air-air terjun tiban di lereng gunung Lawu mengalir membentuk garis-garis memanjang putih nampak dari lembahnya, air terjun yang memutih alurnya.
   Air terjun musiman, yang ada aliranya jika musim hujan tiba, aliran air yang besar, datang dari kawasan puncak, tebing dan menyatu di lekuk-lekuk tubuhnya yang tinggi menjulang gagah, wukir Mahendra, gunung terbesar di Jawadwipa.
   Dan jika didekati akan terbentang pemandangan air terjun raksasa berbagai bentuk yang meluncur deras dari kelembah bawah.
   Dan dengan suara yang lebih hebat bergemuruh dari air terjun raksasa terbesar di dunia, Niagara, karena debitnya yang jutaan meter kubik, mengalir ke lembah dan memenuhi permukaan anak-anak sungai yang meliuk-liuk bagai ular raksasa.
   Air yang menyatu di jalur-jalur sungai musiman, yang jika musim kering hanya berupa jajaran jurang-jurang curam yang menganga, kini berubah jadi beberapa air terjun raksasa, air terjun di lereng gunung Mahendra, warga Panekan yang melihat dari lembah bawah menyebutnya sebagai Ancar, air terjun musiman
  “wah, semalam banjir pakdhe, malam sampai subuh belum reda, barusan saya mampir ke menengok lahan padi, lumpur naik ke sawah, dua petak tanaman padi terpaksa saya sulam ulang karena hanyut akibat debit air yang terlalu besar, salah saya sendiri, lupa menutup saluran air masuk ke petak sawah, begitu hujan datang, langsung di hajar aliran air dari jalur irigasi utama, banyak yang hanyut, maklumlah pakdhe baru sehari di tanam malamnya langsung terendam air berarus deras akibat hajatan hujan, untunglah stok cadangan bibit masih cukup, ketiban pulung, pagi-pagi buta sudah nencepin bibit padi di sawah, hehehe”
   “memang anakmas, anyak mareng tahun ini hujanya hampir tiap hari, sampai-sampai saya tidak bisa menengok sawah karena cuaca hujan yang terus-terusan setiap hari, mungkin sawah saya kini juga terendam lumpur yang petak-petaknya dekat tulakan, dekat dengan pintu masuk air, terendam lumpur akibat terbawa arus saluran irigasi, dari atas hujan menghajar tebing dan lereng yang agak gundul akibat kebakaran hebat kemarau lalu”.
   “iya pakdhe, kawulo piyambak juga ngeri memikirkan akibat kebakaran hutan kemarau lalu, aliran sungai warnanya hitam pekat akibat sisa abu dan arang di tebing dan lereng gunung Lawu hanyut ke bawah terbawa air hujan, yang takutnya akan memiciu titik-titik rawan Lonsor seperti sepuluh tahun yang lalu, banyak warga kehilangan ternak sapi dan rumahnya akibat longsor”
   “benar anakmas, semoga cuaca yang bagus di musim anyak marengan ini segera datang, dengan hujan yang debitnya sedang serta teratur tidak tiap hari jatuh, labuhan musim tanam padi sudah banyak yang panen berganti tanaman jagung, banyak yang akan menanam bawang merah nampaknya kadang tani di Penekan, mereka akan lebih jor-joran anakmas, karena tahun lalu saja Panekan membuat heboh karena sukses besar dan para petaninya banyak yang bisa beli tanah lagi karena untungnya yang luar biasa, keuntungan ibarat main judi menanam bawang merah yang sekarang seperti investasi tak sampai 100 hari panen sejak pengolahan lahan”
   “injih Pakdhe, tahun ini untuk stok pakan si Sembrani dan ribuan kuda pacu di zona Lawu, sengaja marengan saya perbayak nanam padi silangan seratus hektar, bibit pari ulu yang sukses di perbanyak di Panekan kiriman dari sedulur PSCP Kutai Barat Kalimantan Timur yang ikut mensuport perjuangan kita di pusat, dan saya sudah menghubungi teman-teman semua, sudah siap seribu hektar pakdhe, kami seluruh warga Madya angkatan kami patungan nanam bawang merah dan padi organik marengan ini, modalnya sama seperti tahun kemarin, plus tambahan tenaga kerja, pupuk organik dan dana perawatan khusus naik lima persen, jika kalkulasi kami gol, insyaalah akan bisa mendatangkan pejantan kuda pacu juara Asia dan Dunia buat bibit unggul plus pengadaan ribuan garasi kandang kuda yang juga baru hehehe, hanya karena untung main judi di lahan sawah nanam bawang merah yang perlu waktu 80 sampai 100 harian paling lama”
   Pakdhe Wiro diam-diam mengagumi sepak terjang Wibowo dan kawan-kawanya satu angkatan, sosok-sosok tangguh pendekar muda warga Madya yang memilih jadi petani di Panekan, dikala ribuan anak-anak muda semua eksodus ke kota, malu jadi petani, akibatnya sawah banyak yang jadi lahan tidur.
  Wibowo dan kawan-kawanya beda, mereka rela menjaga tanah kelahiran dengan jadi PETANI, pembela tanah air nusantara Indonesia, petani milenial yang mampu membawa kembali kehidupan peradaban kearifan lokal leluhurnya, menjadi jembatan penyambung sejarah yang lama kepaten obor.
   Wibwo dan warga-warga muda Madya itu, cancut taliwanda, menyewa lahan puluhan hektar saja awalnya, nanam jagung dan bawang merah, untung besar nambah luas sewanya, dan untuk mesin penggarap lahan dibelikan sapi penggrap sawah, yang efektif menggantikan trakator bajak yan tak efesien di lahan berundak, berteras miring sampai 75 derajat.
    Panekan yang lembahnya bergelombang berbukit dengan lereng terjal, ratusan ekor sapi yang kini sudah maksimal kemampuan menggarap sawah dengan menarik bajak dan luku tradisional.
   Mesin traktor modern gagal totak di lahan yang berteras tajam dengan sudut kemiringan  30 derajat, makin tajam tinggi sudutnya makin sempit teras petak lahanya.
   Dan di beberapa titik lokasi yang tanahnya subur, sudut kemiringan lahanya bahkan  bisa mendekati sudut 80 derajat, dengan petak lahan yang makin sempit itu hanya bisa di singkal bajak yang ditarik sapi, mesin tradisional yang efektif dengan bahan bakar rumput dan dedak, murah praktis dan gratis, traktor makan minyak solar, biaya suku cadang dan reparasinya sangat berbiaya tinggi, tak cocok untuk teknik budidaya padi organik alami.
   Traktor sering merepotkan jika akan pindah ke petak yang lebih sempit, harus di gotong ramai-ramai, dan itu sangat melelahkan, memakan waktu, membuat jengkel operatornya.
   Untungnya ada teknologi kuno namun efektif dan efesien, sapi yang menarik bajak dan singkal, dan teknologi yang dianggap ndeso, masih tradioanal peninggalan peradaban jaman  purba untuk pengolahan lahan calon tanaman padi ituah yang mendatangakan keuntungan dari banyak sisi.
   Teknologi purba yang bahkan sekali lagi sangat menolong, adalah bajak dan singkal yang di tarik seekor lembu untuk lahan paling sempit dan sepasang lembu untuk petak yang lebih lebar, lembu sebagai kendaran suci Bathara Guru di masa silam, peradaban purba manakala nusantara masih menyembah agama hindu aliran Siwa.
   Dalam tempo yang bahkan singkat, Wibowo dan warga Madya Muda itu sudah mampu berdikari, mendirikan CV Cempaka Madya, bidang usaha on dan off farm yang berkaitan dengan pertanian dalam skala luas dengan hak sewa ratusan ribu hektar lahan subur di lembah gunung Lawu sampai gunung Wilis, kawasan Monconegari Wetan yang jadi lumbung utama bahan pangan negeri ini.
   Setelah sukses, mereka beternak ribuan ekor ternak kuda pacu, wilayah lereng gunung Lawu yang kaya potensi di maksimalkan, mereka jadikan inti pengajuan proposal lokal ke pemda dan kementrian negar terkait, gol semua dan bulat kontan di sepakati, wisata berkuda di zona desa dan wana hutan lindung area lereng sampai puncak gunung Lawu menjadi ikon utamanya, dalam tempo singkat, semua bisa, semua terlaksana.
    Wibowo yang jadi direktur utama CV. Cempaka Madya, masih seperti dahulu, saat masih jadi pemuda biasa, kemana-mana hanya mebawa pick up bututnya, pick up yang sudah diganti dengan mesin baru, pick up perjuangan.
   Sosok anak muda yang jadi pendekar muda yang menolak jadi menteri pertanian NKRI karena tak ingin jauh meninggalkan gunung Lawu, wukir Mahendra, tanah keramat yang baru saja bangkit kekuatan sejatinya.
    Istana menjadikan anak-anak muda di CV. Cempaka Madya tolok ukur pembangunan manusia milenila nusantara dan khususnya spesifikasi pembangunan teknologi tepat guna di bidang pertanian yang tidak melupakan keunggulan asli kearifan lokal leluhur nusantara.
   Dan kepercayaan pak Jokowi presiden RI kepada anak-anak muda itu dimanfaatkan Wibowo untuk titip pesan budaya keramat paling wingit gawat keiwat-liwat.
  Sekali lagi sebuah pesan yang sangat wingit, kalau bisa istana dan majelis permusyawaratan rakyat merubah dan merevisi sistem pemilihan kepala daerah sejak tingkat lurah, kades, bupati, walikota dan gubernur agar tidak melalui pilihan lagsung, karena demokrasi ini sangat tidak cocok untuk peradaban timur yang serba gotong royong dan mengedepankan kerukunan warga dan masyarakatnya.
   Pesan siandhi, dengan tujuan uutama agar tak terjadi pertengkaran karena beda pilihan politik, manakala mencari pemimpin daerah, baik yang maju jadi pimpinan desa kelurahan sampai propinsi, yang sangat mungkin memicu pertumpahan darah yang kelak tentu akan berakibat kehancuran negeri ini jika terus menerus dipertahankan sistem demokrasi langsung ini.
   Paska reformasi tahun 1998, demokrasi langsung umum bebas rahasia jadi kehilangan makna, yang ada adalah demokrasi pancasila yang dibelokkan seenak udelnya oknum-oknum yang syarat kepentingan sesaat dan kontan.
   Para tim sukses menggunakan kampanye hitam, kelompok radikalis berbau syariat agama berbaris rapi menggempur peradaban gotong royong dengan ayat-ayat jihad.
   Ayat-ayat perang sabil, gerakan bertopengkan baju agama Islam murni yang dibenturkan dengan Negara Pancasila secara head to head lewat medsos dan kajian-kajian keagamaan yang dimanipulasi sedemikian cerdiknya.
   Sehingga kalangan awam banyak yang kepincut ikut-ikut, mabuk berat dan kontan membenci pemerintahan, yang jika berlarut-larut, akan memicu kerusuhan sara, peradaban budaya nusantara akan terancam sirna ilang dari kertaning bumi pertiwi.
   Dan yang lebih ngeri dari krisis agama dan politik di kawasan timur tengah yang kini dunia masih fokus dengan sepak terjang  Isis yang tenar sebagai pejuang jihad penggorok leher pemenggal kepala, dan itu niscaya terjadi tragedinya di bumi NKRI jika tak segera dicarikan solusi dengan mencari formulasi berdemokrasi ala nusantara yang setia pada peradaban agung adilugung khas leluhur nuswantara.
    Itulah peradaban budaya gotong royong, suara terbanyak di demokrasinyapun memakai musyawarah mufakat bulat, bukan pilihan per individu di bilik suara, namun rapat terbuka dibalai desa, kelurahan, kampung sampai pendopo agung kadipaten dan gubernuran bahkan istana raja.
   Mengacu pada suksesnya sistem kerajaan masa silam dimana pemerintahan efektif menjadi diri sendiri dalam ketatanegaraanya.
   Pemerintahan yang sukses menjadi besar dan jaya di bumi nusantara, pemimpin daerahnya akan ditunjuk langsung oleh Negara dan raja atas rekomendasi wakil-wakil rakyat yang kompeten, sehingga benturan kepentingan, ditunggangi kekuatan kiri dan kanan akan dikanalisasi, dokontrol dan di habisi, terhapus dengan mudah.
   Dan hari ini, era milenial kita kenyang disuguhi dengan gerakan massif terukur dan sistematis kelompok-kelompok kecil pro khilafah yang berbaris rapi di reuni 212 setiap tanggal 2 Desember setiap tahunnya, sampai hari ini di kawasan monument nasional di Batavia, Sunda Kelapa, Jakarta, itu fakta, dan Negara-pun harus berhadapan dengan anak-anaknya sendiri yang minger kiblatnya.
   Semua itu berawal dari kebablasan dan liarnya demokrasi langsung di desa dan benturan antar pendukung dan botoh pemilukada yang harus bisa dihapuskan potensi konfliknya dengan cepat dan diefesienkan serta direvisi undang-undang yang mengatur seluk beluk teknis dan non reknisnya.
    Wibowo dan kawan-kawanya adalah simbolisasi masih adanya di negeri ini anak muda yang menolak diblow up media masa, bahkan saat bertemu secara sangat rahasia sang preseiden NKRI guna memberikan masukan dan kritikan lebih suka sinamudana dedelikan, bertemu dengan sosok RI 1 secara blusukan.
   Aspirasi milenial anak muda yang menjadi pejuang Panca Setia di kawasan lereng timur wukir Mahendra di setiap anyak Purnamasidhi, sosok anak muda yang memilih keluar dari daya pikat gemerlap jabatan di kursi kekuasaan pemerintahan dan negara dan total menjadi garda terdepan ketangguhan pangan serta ekonomi negerinya tercinta, Indonesia, tanah air nuswantara.
   “oya anakmas, bagimana musim sodoran nanti, apakah jadi mengundang pendekar-pendekar terbaik dari kampung pencak silat zona pura Purabaya, kawasan Madiun”
   “siyos pakdhe, Mbah Man sendiri menyediakan Dwija Cup tahun ini, untuk diperebutkan pendekar-pendekar penunggang kuda terbaik, saya harap semah kawula nimas Rengganis tahun ini kompak dengan pasukan estrinya, bisa mengharumkan nama besar Srikandi Cempaka Putih Pusat pakdhe, karena saya tahu sendiri,  kian tahun kian berat, pendekar-pendekar penunggang kuda dan khususnya skuad Srikandi Gunung Wilis makin mahir dan tangguh, saya tidak ingin gelar juara umum pindah dari kita ke kawasan Madiun, kita yang mempelopori, kita jugalah yang harus jaga gengsinya pakdhe”
   “hehehe, semoga sukses anakmas, genduk ayu Rengganis itu memang trah pasukan Estri Pura Mangkunegaran dari simbah buyutnya yang putri, maka wajar saja jika darah prajurit perempuan penunggang kuda itu deras mengalir di dalam tubuhnya, tiga kali meraih gelar penunggang kuda terbaik yang laki-lakipun ia kalahkan hehehe, mengalahkan seluruh ketangguhan pendekar-pendekar penunggang kuda di zona monconegari, dan belum ada adik angkatanya yang mampu menyamai rekor si genduk Rengganis”
   Wibowo tersenyum bangga, sang bini yang bernama Rr. Hesti Maharani, Rr ternyata roro rengganis, kalimat yang tak tertulis, bukan gelar keraton, itu hanya nama hadiah sang nenek buyut sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, bilang pada sang ibunda Hesti, jika jabang bayi itu lahir perempuan, beriah tambahan Rr, kepanjanagn dari Roro Rengganis, nunggak semi dengan nama tenar seorang Senopati Putri Pura Mangkunegaran yang jadi tetunggul agul-aguling yudha saat pangeran Sambernyawa menghajar kekuatan militer modern Kompeni Belanda di era pecahnya Mataram menjadi empat projo kejawen.
   “mugi-mugi mimpang pakdhe si genduk sudah bisa ditinggal, jadi ibunya bisa kembali berlatih menunggang kuda, kadang ia malah tertidur saat di bawa berkuda pagi-pagi menghangatkan diri di bawah sinar matahari, tertidur lelap saat menyusuri jalanan persawahan saat ibunya membawakan bekal sarapan buat saya hehehehee”
  Wibowo tersenyum geli, saat anak pertamanya yang perempuan itu sering di gendong di punggung ibunya memakai tas gendongan bayi ketika naik kuda pagi-pagi saat sang bini mengirimkan nasi sarapan ke lahan sawah.
   Anak balita  usia setahun yang sedang lucu-lucunya, balita yang justru lelap tertidur di punggung ibundanya itu, sang ibunda sang legenda pendekar putri penunggang kuda, sosok tangguh srikandi cempaka putih yang selalu juara pertama, yang bahkan mampu mengalahkan ketrampilan sang ayah sendiri, sang ayahanda yang lulusan terbaik pendekar muda Madya PSCP Pusat.
  Tak lama, pakdhe Wiro menumpahkan gorengan, sukun yang gurih, rasa asin manis yang khas, makanan kesukaan Wibowo, yang segera mencomotnya, menikmati dengan penuh syukur, sukun goreng yang asyik buat jadi teman minum kopi jahe khas warung kopi pendekar racikan pakdhe Wiro, sosok sepuh yang menikmati hidup di desa, hidup di subur dan damainya lembah gunung Lawu.
   Setiap musim hujan hampir berakhir, para petani menanam bawang merah, musim mareng, Marengan, Panekan menjadi lumbung bawang merah nasional.
   Dan CV. Cempaka Madya yang Wibowo rintis makin besar dengan ribuan karyawan, namun anak muda itu enggan berkantor di Surabaya atau Jakarta atau bahkan Singapura.
   Semua itu ia wakilkan saja keadministrasianya pada tangan-tangan berintegritas yang kompeten di bidangnya, kawan-kawanya saat kuliah dan sama-sama menjalani beratnya pendadaran kawah candradimuka calon warga Madya.
   Dan jika rapat penting ia hanya telekonferen saja dengan pelaksana tugas Dirut CV.Cempaka Madya di ketiga kota utama kantor resminya.
  Rapat jarak jauh dengan perwakilan kantor cabang yang dipegang kawan-kawan seangkatanya di kala masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan  di kawah candradimuka pendadaran calon pendekar warga Madya pencak silat Cempaka Putih pusat yang maha berat.
  Atas didikan, restu dan doa sesepuh PSCP Pusat, semua kesuksesan itu tetap membuat Wibowo dan personil jajaran CV. Cempaka Madya tetaplah sosok-sosok muda yang sangat rendah hati, bahkan kendaraan serta rumah mereka masih biasa.
  Dan sang dirut CV. Cempaka Madya, Wibowo masih suka naik pick up butut kemana-mana pergi.
   Dan sang istri malah suka nunggang si Sembarani, kuda putih juara umum di arena pacu dan keahlian perang para pendekar monconegari.
   Isteri yang tak biasa, perempuan pendekar yang luar biasa, nama besarnya dikenal seluruh jajaran para pendekar kawasan lembah gunung Wilis sampai lembah gunung Lawu.
   Dan dunia kependekaran mengenal isterinya dengan sebutan si Rengganis, macan putri penunggang kuda sembrani dari pasukan Srikandi Cempaka Putih gunung Lawu.
   Sosok yang tangguh, tanggon, cekatan, tatag dan titis, sambil menggebarak kuda dengan kecepatan maksimal, ia selalu sukses menembakkan anak panahnya di titik sasaran dengan nilai terbesar.
   Dan ujung mata tombaknya selalu sukses mengambil gelang-gelang rotan yang di gantung di tiang-tiang gawang di lapangan desa tempat arena perlombaan ketangkasan menunggang kuda perang, kuda pacu terbaik.
   Dan si Rengganis, macan putri penunggang kuda sembrani, pendekar putri yang masih muda, agul-aguling skuad Srikandi Cempaka Putih lembah gunung Lawu, adik angkatan Wibowo sang suami di perguruan PSCP Pusat selalu juara satu, selalu ungguling ayudha.
    Srikandi cempaka putih yang selalu jaya di palagan dengan menyabet juara pertama, mengalahkan pendekar laki-laki di zona monconegari, lembah luas terbentang sejak gunung Lawu sampai gunung Wilis.
  Gadis lincah yang Wibowo taksir sejak SMA, dan garis jodoh itu sempurna mempertemukan mereka sebagi sepasang pendekar gunung Lawu yang mahsyur di dunia persilatan era Milenial.
   Hujan merintik lagi, Wibowo menghabiskan sisa kopi jahenya yang dingin, ia bayar uang kopi dan gorengan, yang seperti biasa di tolak sang pemilik warung yang gurunya sendiri di PSCP pusat.
   Seorang guru yang setiap pekan ia berikan hasil panen sayur, buah dan rempah serta uang saku yang lebih dari cukup untuk kebutuha hidupnya,.
  Sosok tangguh guru pencak silat  yang anak-anaknya sudah mapan dan ia memilih menolak tinggal serumah dengan mereka,   
   Dan semua pemberian Wibowo kepada pakdhe Wiro itu hanyalah sebagai wujud dharma bakti murid kepada sang guru yang tak pernah di gaji Negara.
  Seorang guru silat adalah wujud murni kerelawanan dan pengabdian sejati, tanpa imbalan, tanpa gaji, gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang seharusnya milik mereka.
  Gelar yang harus di bagi atau bahkan di lengserkan dari pundak guru di jajaan ASN, Aparatur Sipil Negara, guru yang digaji negara.
   Para pendidik jutaan siswa yang tersebar di seluruh pelosok NKRI, sosok panutan yang kini takut memukul oknum-oknum muridnya yang bahkan urakan, nakal, jahat, kriminalis sejati, yang nyata sudah bermoral bejad karena takut masuk penjara polisi, takut KPAI, takut HAM, #kasihan.
  Dan guru silat dengan gagah berani mengambil alih tanggung jawab itu, memukul, menginjak-injak, menyeret, merendam di air kolam, sungai dan lautan, menjewer telinga, bahkan menempelang dan menjungkir balikkan tubuh siswanya itu dalam perkelahian khas dunia persilatan, mendidik lahir batin wadag dan jiwa besar murid-murid binaan sang guru silat, yang tak mungkin dilakukan guru sekolah biasa.
  Dengan tujuan utama, agar kelak jadi manusia yang tangguh lahir batin berakhlak mulia.
   Tidak cengeng dan cemen seperti siswa lulusan sekolah pemerintah, yang hanya pintar otaknya saja, namun tubuhnya lemah tak berdaya serta akhlak budi pekertinya banyak yang dipertanyakan lagi.
   Sosok pakdhe Wiro yang bersahaja, seorang guru yang memilih hidup sederhana, berjualan minuman kopi dan gorengan, penjaga warung kopi pendekar yang selalu akrab dan dekat denga siap saja.
   Maha guru padepoakan PSCP Pusat, sosok sepuh kepercayaan sang Dwija wasana yang akrab dengan semua anggota PSCP, baik siswa, warga perguruan maupun masyarakat umum di wilayah padepokan pencak silat Cempaka Putih Pusat.
   Hari kian merangkak menuju siang, hujan gerimis masih merintik, puncak gunung Lawu meremang karena awan seharian menutupi langit.
  Jalanan, sawah, kebun, ladang dan atap-atap rumah basah, udara dingin masih mendekap alam, bahkan sejak semalaman semuanya kuyup diguyur hujan yang bagaikan tumpah dari angkasa.
    Lembah indah subur itu menghijau seronok, daun-daun di pepohonan lebat tajuknya, semak-semak merimbun, tunas-tunas tanaman di lahan sawah hijau segar, kebun dan ladang dipenuhi berbagai tanaman pangan beraneka ragam macamnya, alam di bumi Jawa Dwipa nampak sangat elok permai,  bumi yang gemah ripah dan loh jinawi, musim labuhan metit, pertanda mangsa mareng sudah anyak.
SURO DIRO DJOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI.
RUMONGSO HANDARBENI HANGRUNGKEPI NGULAT SARIRO HANGROSOWANI.
WIRO YUDHO WICAKSONO.

Minggu, 24 November 2019

Penjajakan Pendapat 24 November 2019




Dari Sebuah Polling


   Ada sebuah penjajakan pendapat yang dilaksanakan oleh tim bulletin PSCP Kutai Barat Kaltim, dimana respondennya dimintai pendapat, baik  bagi warga laki-laki dan perempuan KB PSCP di semua usia, jajak pendapat yang kami ajukan itu untuk bahan yang akan di jadikan salah satu isi dari konten warung kopi pendekar di Buletin PSCP Kutai Barat-Kabarnya Pendekar Milenial Zona Kubar-Kalimantan Timur.
   Warung Kopi Pendekar adalah sarana untuk mengakomodir isu dan wacana paling terbaharukan dari setiap kegiatan PSCP yang ada di pusat, wilayah, cabang dan ranting bahkan sub Ranting yang terblow up di medsos maupaun tidak terekspos dan isu-isu lain yang masih ada kaitannya dengan PSCP secara umum.
    Dan materi yang disampaikan dalam bentuk dialog tokoh-tokoh fiksi yang mewakili sosok-sosok yang ada di setiap kegiatan PSCP, sosok-sosok yang bertemu dengan berbagai hal pengalaman unik, manis asam pahit manakala merintis PSCP di zona perjuanganya masing-masing yang secara umum hampir memiliki pengalaman yang sama namun berbeda dimensi raung dan waktunya.
   Poling jajak pendapat bagi KB PSCP ini secara acak/random, yang temanya adalah jika seorang warga atau pelatih yang masih jomblo kemudian sudah bekerja dan siap secara lahir batin untuk menikah, maka sebaiknya ia menikah dengan perempuan jika ia pria atau lelaki, dengan pria jika ia wanita atau gadis, dan jodoh yang ia pilih di kolom jajak pendapat apakah dari kalangan pendekar atau kalangan biasa non pesilat.
   Dari beberapa opsi pertanyaan dan jawaban yang di ajukan di beberapa grup intern KB PSCP, audience memilih hal yang sebagian besar memilih jodoh non pesilat gadis atau perempuan bagi warga pria dan lelaki bukan pendekar bagi warga wanita, para warga pendekar baik laki-laki maupaun wanita alias lebih condong memilih jodohnya dari kalangan biasa non pesilat pendekar.
   Hal ini karena Dwija Wasana, Mbah Man, dalam beberapa kesempatan sudah mewanti-wanti bagi para warga KB PSCP, baik pria maupu perempuan, agar yang sudah di seniorkan, dituakan atau bahkan yang sesepuh PSCP di manapun ia berjuang, agar pandai-pandai menjadi pagar yang baik yang tidak merusak dan makan tanaman yang ia jaga, agar di contoh adik-adik seperguruanya kelak.
   Pagar yang baik artinya menjadi penjaga, bukan perusak, ibaratnya perempuan dan gadis-gadis remaja yang baru masuk menjadi bagian dari PSCP adalah aset berharga yang masih imut, labil, mudah rusak, luka, pecah dan layu, ibarat tanaman harus dijaga dan diamankan, agar ia bisa maksimal dan memperoleh latihan-latihan yang sesuai dengan bakat dan minatnya di PSCP sehingga kelak menjadi sosok perempuan yang tangguh, Srikandi Cempaka Putih.
   Di usia belia dan remaja, gadis-gadis itu ibarat tanaman yang nedeng-nedenge tuwuh, akan mengundang kambing-kambing dan hewan lainya yang lepas ikatan talinya tak tercancang lagi di patokan dan lepas dari kandangnya, tergoda untuk menikmati ranum dan sedapnya tanaman muda yang berdaun hijau segar!.
   Gadis-gadis dan remaja putri itu pun sama, di usia transisi menjadi wanita dewasa ibarat sebuah tanaman yang sedang subur dan di puncak-puncaknya untuk terus bertumbuh daun , tunas , batang serta bakal putik bunganya.
   Ia akan masuk ke dalam sebuah pencarian idola, pacar dan calon tambatan hati belahan jiwa, di mana alam bawah sadarnya sebagai perempuan muda, akan mencari sosok pria yang tangguh, baik secara fisik dan ekonomi.
   Sehingga ia berharap kelak jika menikah anak-anak garis keturunannya akan aman terjamin secara rohani, fisik dan material, sebuah tuntutan dan cita-cita yang sangat manusiawi dari seorang perempuan muda era purba bahkan sampai jaman now Milenial.
   Sehingga, perhatian lebih senior kepada siswanya seringkali membuat sebuah hubungan antara guru dan siswa tidak professional, ada ikatan batin sehingga seringkali menimbulkan gejolak dan intrik di intern PSCP di mana kasus itu kadang-kadang masih sering terjadi sampai hari ini.
  Siswi sendiri kadang berusaha mencari perhatian lebih dari sekedar perhatian guru kepada murid, hubungan saling membutuhkan, jika keduanya jomblo tidak masalah, namun manakala salah satu diantaranya sudah bertunangan bahkan menikah, masalah rumit akan muncul dan menjadi duri dalam daging.
   Akan timbul masalah dan penyakit sosial, benturan batin, rusaknya nama baik perguruan PSCP, dan imbasnya latihan yang di rintis susah payah akan bubar sia-sia hanya karena masalah yang kadang dianggap sepele, cinta lokasi antara atau sesama atau dengan senior, junior/adik angkatan bahkan siswa di lokasi latihan silat. yang semuanya berawal dari perhatian yang melebihi batas kewajaran antara guru dan murid.
    Studi kasus yang terjadi di saat Dwija Wasana merintis PSCP, beberapa anak didik beliau saat sabung/sparing bertarung mati-matian, bahkan menggunakan unsur tenaga dalam yang bisa membahayakan nyawa mereka.
   Usut punya usut, masalahnya rebutan cewek yang juga ikut di latihan PSCP yang beliau rintis, sehingga saat kedua cowok siswa sang Dwija sabung, ditonton sang pujaan hati, bagai sayembara pilih, siapa yang terkuat akan menjadi pemilik sah sang perempuan, naluri paling purba dari dunia manusia bahkan dunia hewan, sehingga anak didik sang Dwija pun bertarung hidup mati demi cinta seorang gadis, sangat luar biasa sodara-sodara.
   Saat musim kawin, di alam liar, harimau, singa, gajah, burung, ular dan binatang lain, para pejantanya akan berkelahi bertaruh nyawa demi bisa menjadi pejantan dominan di kawanannya dengan imbalan hak mengawini para betina-betina di kawananya itu, dan itu terjadi juga di kalangan manusia yang mencari jodohnya.
   Bahkan di era kerajaaan, putri raja yang terlalu banyak menerima pinangan/lamaran raja muda/pangeran dari kerajaan lain, akan di jadikan hadiah sayembara pilih.
   Dan bagi raja muda dan pangeran yang melamar ikut wajib naik gelanggang pertarungan, karena jika dipilih salah satu, mereka yang ditolak akan bersatu, ngamuk-ngamuk lebih ngeri dari bonek yang kalap karena timnya keok.
   Dan agar aman diadu di atas panggung/gelanggang, barbar dan efektif, siapa yang terkuat akan menjadi menantu sang raja ayahanda dari putri kerajaan yang diperebutkan sekian banyak raja muda dan pangeran.
   Akhirnya, siapapun yang menang akan lanjut sampai final, juara satu atau terakhir yang hidup akan memperoleh sang putri.
   Kembali ke poling jajak pendapat, suara terbanyak, 50 % lebih responden yang memilih jodoh gadis atau pria bukan pendekar, karena hidup, jodoh, rejeki di tangan Tuhan (bukan memiih kolom pilihan yang tercantum gadis/perempuan/laki-laki seperguruan di PSCP).
   Pilihan terbanyak  kedua 30 % lebih memilih untuk menikah dengan kawan perempuan atau laki-laki seperguruan seangkatan dan sudah kerja atau mapan secara ekonomi, artinya tertarik untuk menikah dengan kawan seangkatan atau tahun pelantikanya di PSCP, suara terbanyak ketiga yang 10 % lebih menikahi adik angkatan yang sudah warga dan bekerja serta mapan.
   Tim jajak pendapat sengaja menyelipkan kalimat sudah bekerja dan mapan secara ekonomi bagi warga (perempuan PSCP dan pria PSCP) yang akan/ditaksir oleh sang pemberi suara di jajak pendapat poling ini, sehingga bisa menajdi semacam patokan dan indoktrinasi, bahwa modal nikah itu selain cinta juga kerja yang menghasilka materi demi kelangsungan rumah tangga yang akan di bina kelak, cinta penting, kerja tak kalah utama, nikah itu sepasang yakni pria dan wanita, lahir dan batin, cinta dan kerja, dunia dan akhirat, dan seterusnya dan seterusnya.
   AD/ART PSCP tidak mengatur pernikahan antar warga PSCP, namun sang Dwija Wasana, Mbah Wagiman sendiri berulang kali mengamanatkan kepada KB PSCP, agar mengutamakan seduluran, keutuhan persatuan dan silaturahmi antar warga, melindungi nama baik perguruan dengan menjadi senior pelatih yang baik bagi siswa siswinya.
   Dan jika itu rusak gara-gara ulah oknum warga yang main api dengan siswa dan siswinya, Hukum alam dan hukum Tuhan yang akan bekerja, karena kita manakala di lantik saat masih di tingkat Purwa sudah bersumpah kepada lima kesetiaan, diantaranya SETIA KEPADA SESAMA INSAN, artinya insan sangat universal umum banget.
   Setia kepada tetangga, istri, tunangan, gebetan, pacar, sahabat, teman sekolah, teman belajar kelompok di sekolah atau di bangku kuliah dan lain-lain sesuai dengan porsinya masing-masing.
   Bagi siswa sendiri sangat tak elok jika menjalin hubungan terlarang dengan pelatihnya, bahkan ia tahu sang pelatih sudah beranak isteri atau bersuami dan memiliki buah hati, dan jika ada satu dua kasus sang siswi mengandung jabang bayi hasil hubungan gelap itu, maka semua akan kacau, rumit dan menyakitkan bagi semua KB PSCP yang ada di situ, satu individu berbuat masalah, semua merasakan sakitnya, dan sakitnya itu di sini (nunjuk jidat atau jantung boleh)!.
   Seluruh energi ketua cabang, ketua ranting dan ketua sub ranting akan terkuras mengatasi masalah tersebut, bahkan pengurus wilayah dan pusat akan cawe-cawe turun tangan demi sebuah Nama Baik Perguruan yang sudah tercemar hanya karena bermula dari Cinta Lokasi antara oknum senior dengan siswa dan siswinya.
    Hal ini jarang dibahas secara njlimet, namun sangat mendesak untuk dibumikan menjadi sebuah kesadaran dan tindakan baru serta semangat perjuangan yang juga baru dimana kita semua KB PSCP dimanapun berada wajib nguri-uri budaya leluhur kita yang adiluhung, pencak silat.
   Adik-adik seperguruan dan angkatan sangat memerlukan keteladanan para sesepuh dan senior pelatih serta warganya, agar adik-adik seperguruan dan angkatan itu tak akan mengulangi berbuat di kasus yang sama.
   Karena PSCP makin berkembang, dan angkatan 2019/2020 ini jumlah siswa siswi yang masuk menjadi murid di lokasi latihan makin banyak, sehingga tugas kita semua, baik pengurus maupun warga dan senior pelatih untuk membekali diri agar tetap tegak lurus menjaga amanat sang Dwija Wasana, menjaga nama baik perguruan dan tetap “setia” kepada sesama insan.
      Terimakasih  peran dan partisipasi seluruh bubuhan sedulur keluarga besar PSCP di grup-grup PSCP sehinga jajak pendapat ini menghasilkan data awal yang kami harapkan bisa menjadi salah satu alternatif dan acuan dasar agar PSCP di Kubar khususnya dan nusantara secara umum makin subur dan berkembang lagi menjadi salah satu mercusuar peradaban yang memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada perdamaian dunia secara universal.
   Rumangsa Handarbeni Hangrupaki Ngulat Sarira Hangrasa Wani-Wiro Yudho Wicaksono.


OWKP


PENDEKAR PUJANGGA
SYAIR BERDARAH
Obrolan Warung Kopi Pendekar
OWKP




   Hari lewat tengah malam ketika sosok sepuh yang masih bregas itu membuka warung kopinya didekat gedung CP,  sangat lambat buka, kalau saja adonan gorengan belum ia siapkan, malam ini ia memilih menutup warungnya, karena pakdhe Wiro baru pulang kondangan, ada familinya yang punya hajatan khitanan, keponakannya yang baru SD kelas 1 itu sudah merengek-rengek minta di sunat.
   Masalahnya sepele, karena sering di buly teman sepermainan saat pipis bersama di bawah pohon burungnya belum diubah bentuk, dan teman-temannya semua sudah berubah bentuknya.
   Dan sang keponakan tadi sudah tersenyum senang, karena burungnya sudah berubah, dan ia tidak akan di buly teman-temanya saat pipis di bawah pohon selepas mainan bersama sepulang sekolah.
   Karena bentuk burung mereka sudah di ubah oleh pak mantri sedemikian rupa, sehingga nampaknya mereka akan kompak bermain tak saling ejek saat pipis di semak-semak atau di bawah pohon, bentuk burung yang kelak akan menjadi ikon kewibawaan pria dewasa di saat sudah menjadi imam di sebuah keluarga.
    Tak lama, Wibowo dan genknya masuk, memesan kopi cilik sambil tangan mereka terampil meraih ubi yang masih panas sehabis di goreng, ubi manis yang murah meriah khas makanan desa.
   Genk anak muda yang baru keluar dari gedung CP, anak muda pendekar milenial menyebut bangunan itu Padepokan Pencak Silat Cempaka Putih, dan nampaknya mereka baru selesai latihan tak sampai jelang dini hari, malam ini kelar cepat karena materi pra Madya sudah di sampaikan semua, tinggal tes ujian saja di malam sebelum pelantikan.
   Gedung CP itu adalah bangunan yang berdiri di era orde baru sampai era reformasi kini masih kokoh berdiri, bangunan yang sudah melantik ribuan bahkan jutaan pendekar yang kini menjadi bagian dari keluarga besar pencak silat Cempaka Putih.
   Wibowo mengeluarkan gadgednya, sambil nyemil ubi goreng dan sesekali nyeruput kopi cangkirnya, ia asyik membalas WA teman-temannya yang baru saja menyelesaikan latihan calon Warga Madya.
   “mas Bowo tadi ketemu mbah Man ya, bagaimana kondisi beliau apakah masih sehat mas”
   Pakdhe Wiro membuka percakapan, setelah selesai menumpahkan lagi gorengan yang baru ia masak pada sebuah piring besar, yang langsung di serbu rombongan pendekar muda PSCP yang kelaparan itu.
   “injih pakdhe, mbah Man Alhamdulillah masih bregas, walau dibantu tongkat kalau tindakan, beliau mengawasi kami latihan langsung, karena Desember ini kami akan disahkan naik ke tingkat Madya pakdhe, doakan kami semua bisa lulus pakdhe”
“tentu aku doakan mas-masnya, penting sehabis latiahan rajin ke warung kopi saya ini, hehehe, recehan uang terkecil pun dari anakmas semua bisa berguna, buat paginya nyangoni putu yang berangkat sekolah anakmas heheheee”.
   Sampai jelang subuh, mereka tetap asyik ngobrol, obrolan beda generasi, generasi perjuangan revolusi fisik merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda dengan kaum milenial muda yang tak mengalami kontak fisik bersenjata.
   Karena saat mereka lahir, semua serba instan, cepat dan mudah, era kemerdekaan yang melahirkan kaum milenial yang banyak tak tahu 36 butir-butir Pancasila, lha yang lima sila saja banyak yang tidak hafal maknanya, jangankan maknanya, hafal kalimat lima sila Pancasila saja sudah banyak yang tidah tahu, #sedih.
   Tak sengaja Wibowo memutar sebuah chanel di youtube, chanel sandiwara radio klasik dimana dulu pakdhe Wiro adalah salah satu fans sejatinya, sandiwara radio tutur tinular.
   “wah, bagus anakamas, coba kerasin sedikit lagi, biar telingaku yang sudah uzur ini bisa mengenang kembali masa lalu, masa saya dulu kecanduan sandiwara radio ini”
    Wibowo kemudian memenuhi permintaan lelaki sepuh yang masih bergas itu, lelaki sepuh yang dikenalnya sebagai penjual gorengan ldan minuman kopi kesukaannya bersama teman-temannya setiap pulang latihan dari gedung CP.
   Wibowo heran, saat pakdhe Wiro menirukan kalimat syair cinta seorang pemuda dari desa Kurawan wilayah kerajaan Singhasari di dekat gunung Anjasmara, pemuda melankolis yang melantunkan bait-bait syair indah dunia asmaraloka.
   Menirukan sama persis seperti dubing, tekanan kata dan tata kalimat yang nyaris sama persis.
  “heheheee…pendekar syair berdarah, pendekar golongan hitam yang saya heran kok saya suka, padahal dia itu jahat, suka membunuh suami perempuan yang ia taksir, meniduri istri orang, menghamili anak gadis kembang desa yang ia pikat dengan ilmu pengasihan, pokoknya ia itu ibarat pemetik kembang yang rupawan, gagah dan sakti dan tak kalah dahsyat ia itu pandai menyusun syair indah yang membuat perempuan jatuh hati dan suka rela menyerahkan keperawanannya bahkan sampai hamil, bahkan mantram sakti ilmu pedang sabit kembarnya ia unggah lewat alunan kidung keramat, kidung pamungkas pendekar syair berdarah sehingga ia dijuluki pendekar syair berdarah yang hanya kalah telak melawan adik kandungnya Arya Kamandanu didikan Mpu Ranubaya, pewaris aji Sepi Angin yang mampu bergerak bahkan tak kasat mata, adik kandung yang marah hebat saat pacarnya si Nariratih di hamili si Arya Dwipangga, sang kakak kandung yang mata keranjangnya tingkat dewa 20, yang kerjaanya keluyuran masuk kampung keluar kampung ngadu ayam jago sambil mencari mangsa gadis-gadis cantik kembang desa”.
   Wibowo yang sedang gentur menjalani laku sebagai bagian dari pendadaran calon warga Madya itu kagum dan terheran-heran.
   Bagiamana bisa sandiwara radio yang ia sukai setelah  baru beberapa hari ini saja ia rajin ikuti kisahnya, setelah tak sengaja tersesat masuk chanel youtube sandiwara radio klasik, dan kisah yang bahkan baru ia mulai ia ikuti itu begitu runtut dan out the box dikisahkan sang penjual kopi dan gorengan yang sosoknya sangat bersahaja itu.
   “Tapi pakdhe, saya baru serial awal, Arya Dwipangga itu membantu Arya Kamandanu dan takut mengutarakan cinta pada Nari Ratih, sehingga diam-diam membantu adik kesayanganya itu agar jadian dengan pujaan hatinya dengan cara mengirimkan lontar berisikan syair-syair indah penuh madu manis legitnya dunia asmaradahana, sehingga Nari Ratih sangat menyukainya dan membalasnya ngajak ketemuan, bagi anak sekarang mungkin setelah chatingan dan inbukan ngajak ngopi darat, hehehee”
  “wah, masih jauh anakmas, itu baru mukadimah, nanti Arya Dwipangga tidak bisa menahan diri setelah tahu kalau gadis yang ditaksir adiknya itu sangat cantik semlohai, sehingga ia nekad merayunya bahkan sampai ia perawani dan sukses ia hamili, yang membuat Arya Kamandanu ngamuk hebat dan menghajar kakaknya itu sampai bonyok-bonyok”
   Pakdhe Wiro tersenyum geli, kemudian menyelesaikan kalimatnya itu.
 “Dan saat di jadikan samsak hidup, hilanglah masuk sumur tua sang kakak bejad moral itu di hajar sang Adik yang seorang pendekar mumpuni, dan di dalam sumur misterius itu sang kakak bertemu seorang petapa sakti yang mengajarinya kanuragan hebat, sehingga ia berubah dari pemuda perayu wanita menjadi sosok mengerikan yang suka membunuh pendekar yang ia temui sebagai ajang melatih ilmunya, sehingga ia makin memiliki kemampuan olah kanuragan yang sampai di tataran pendekar yang pilih tanding”
   “lho, kalau jahat kenapa malah pakdhe mengidolakan dia”
“hehehee, karena Arya Dwipangga itu sanepan dari ketidakberdayaan seorang pendekar , kelemahan seorang laki-laki yang bahkan pendekar sakti sekalipun di hadapan pesona perempuan cantik yang montok semlohai, ia tak berdaya, ia menjadi cemen, menjadi letoi lemah tak berdaya hilang kekuatanya, sama seperti kelemahan kita semua di hadapan pesona biduanita koplo kesayanagn anak-anak muda republik Indonesia, Nela Kharisma dengan Aji Semar Mesemnya WuaahuahaahaahAAAAA…”
  Pakdhe Wiro sampai tergelak-gelak tawanya, sehingga beberapa kali ia terbatuk-batuk, Wibowo hanya nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya yang gatal karena barusan latihan berat di Gedung CP, latihan berat khas calon-calon pendekar Madya Perguruan Pencak Silat Cempaka Putih.
  Mereka masih asyik ngobrol, sampai datang pembeli yang lain, para petani di sekitar Panekan yang sedang bersiap mengolah lahan, bersiap untuk menanam padi di tanah sawah mereka, bersiap karena musim hujan sudah tiba.
   Mongso labuhan, musim kesibukan di sawah dan kebun, bersiap bahkan sebelum gema adzan subuh mengumandangkan kalimat seruan untuk sejenak berbhakti kepada Sang Pemberi Hidup, sehingga pakdhe Wiro terpaksa menghentikan obrolan mereka tentang pendekar syair berdarah yang fenomenal.
   Lelaki sepuh itu kini sibuk membuatkan kopi pelangganya itu, bapak-bapak petani yang wajahnya sudah tak lagi muda, kulit yang keriput dan nampak nerimo ing pandum, wajah yang semeleh dan sumarah, bahagia di tengah keterbatasan dan kemiskinan duniawi, namun sangat kaya akan khasanah batiniah tingkat makrifatullah.
   Wibowo pun mengakui, walau teknik dasar kanuragan PSCP ia sudah matangkan semua sehingga Mbah Man sudah merestuinya naik ke Madya, namun saat bertemu Hesti adik kelasnya dulu, ia masih tak berani mengutarakan cintanya, paling banter ngucapin HBD di akun efbinya saja.
    Ah, benar kata pakdhe Wiro, calon Pendekar Madya-pun akan kehilanagn nyali di hadapan cewek yang ia cintai, huft…ia mengusap wajah, hatinya galau tingkat Dewa 20, karena mendengar kabar bulan Januari yang akan datang, Hesti akan melangsungkan pernikahan, menerima lamaran teman sekerjaanya di dealer motor Yamaha Magetan.
 “hmm…apakah aku hajar saja cowok itu, aku sudah tahu kartunya, calon si yayangku itu tukang mabuk dan main perempuan, sama persis seperti kelakuan Arya Dwipangga yang suka memecah perawan dan ngehamili anak gadis dan istri orang, hmmm, tapi pasti mbah Man tidak merestui saya jika saya minta ijin menghajar cowok itu, aduh, andaikan saya punya keberanian nembak dan ngelamar Hesti duluan, mungkin saya yang saat ini fix jadi calon suaminya, aduuhhhhh!”
  Wibowo memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, sehingga ruang paru-parunya penuh, ia menahan galau sambil meremas-remaskan kedua tapak tanganya, sehinggu buku-buku ruas-ruas jarinya bergemletuk karena efek kuatnya remasan-remasan itu.
  Iseng ia ketik di google, syair cinta Arya Dwipangga kepada Nari Ratih kekasih Arya Kamandanu, dia klik dan muncul banyak pilihan, ia klik salah satu pilihan konten di blog yang ada foto gadis cantiknya.
   Muncul teks sajak syair sang pujangga cinta, Arya Dwipangga kepada Nari Ratih.
   Hemm, ada kata-kata si pujangga mata keranjang ini menyebutkan bunga cempaka beberapa kali untuk menaklukkan kekasih sang adik, Wibowo jengah, namun matanya runtut menyusuri kalimat-kalimatnya, kata demi kata.

SYAIR CINTA ARYA DWIPANGGA

Pelangi muncul di atas kurawan
Warnanya indah bukan buatan
Seorang gadis ternganga keheranan
Rambutnya tergerai jatuh ke pangkuan

Sekuntum cempaka sedang mekar ditaman sari desa Manguntur
Kelopaknya indah tersenyum segar
Kan kupetik cempaka itu untuk kubawa tidur malam nanti

Ku buka daun jendela dan terbayang malam yang indah di hiasi chandra kartika
Di bulan Waisya ini
Sepuluh kali aku melewati pintu rumahmu yang masih rapat terkancing dari dalam
Kapan kubuka
Wahai sang dewi puspa

Pelangi itu muncul lagi
Membuat garis melengkung ke langit tinggi
Daun ilalang diterpa angin gemerisik membangunkan tidurku dari mimpi buruk
Di batas tugu yang indah ini ku pahat dengan bermandikan keringat kasih
Kalau kau tatap mega yang berbunga-bunga
Di sanalah aku duduk menunggu pintu maafmu terbuka

Pelangi senja mengantarkan burung-burung pulang ke sarangnya
Domba-domba pulang ke kandangnya
Tapi aku hendak ke mana
Apa yang kulakukan menjadi tak berharga 
Selama senyummu masih kau sembunyikan di balik keangkuhan hatimu

Nari Ratih...
Kau adalah sebongkah batu karang
Tapi aku adalah angin yang sabar setia
Sampai langit di atas terbelah dua
Aku akan membelai namamu bagaikan bunga

Jika hari telah tidur di pangkuan malam
Kukirim bisikan hatiku ini bersama angin
Biarpun malam pucat kedinginan
Biarpun bintang merintih di langit yang jauh
Aku akan tidur dengan tenang
Sambil memeluk senyummu dalam kehangatan mimpiku

Aku berkelana mencari cinta ke desa-desa yang jauh
Akhirnya di candi walandit kupuaskan dahagaku

   Hmm, Wibowo tersenyum kecut, brengsek juga Arya Dwipangga, namun cewek mana yang tidak leleh kena syair ciamik bermantra pengasihan tingkat master ini, penjahat kelamin yang berbahaya, dalam hati Wibowo misuh-misuh.
  Dan Wibowo tersenyum lebih kecut lagi, ada juga di konten blog yang ia pelototi, teks surat Nari Ratih kepada Arya Kamandanu, surat penyesalan sudah menghianati cinta sang pendekar yang menjadi cinta pertamanya, dan saat diketahui hamil, ia harus rela dinikahkan dengan penyair mata keranjang ayah jabang bayi yang ia kandung akibat hubungan gelap, si pemetik kembang, Arya Dwipangga, kakak kandung Arya Kamandanu, kekasih hatinya yang dulu menyelamatkan dia saat akan diperkosa orang jahat dengan kanuragan pencak silat.

Surat Nari Ratih Kepada Arya Kamandanu

   Malam ini, sebelum masuk kamar, aku sempat mendengar berita dari seseorang yang menemui ayahmu bahwa engkau sedang giat berlatih olah kanuragan pada Mpu Ranubaya di Hutan Kurawan. Kau masih saja setia pada ilmu silat, Kakang. Malah kudengar kini kau sedang memperkuat tenaga dalam dan memperdalam ilmu meringankan tubuh. 
   Sebenarnya apa yang sedang kau cari dengan ilmu-ilmu ketangkasan itu? Apakah benar kata orang bahwa dengan ilmu silat itu kau akan memberontak pada Kertanegara, Raja Singosari yang kudengar sebagai pemabuk dan pecandu wanita itu?
  Kakang, aku ingat, sekian kali bersama menghabiskan waktu bersamamu, aku tak kunjung menemukan kelebihanmu selain bertarung.
   Kebersamaan kita lebih banyak kau habiskan untuk melatih otot-otot tubuh dan ketangkasanmu berkelahi. Berkelahi, Kakang, apa yang bisa diperbuat ilmu silat dalam sebuah hubungan asmara? 
   Meskipun ilmu silatmu itu pernah menolongku dari perkosa berandal Desa Manguntur, aku belum bisa mengubah pandangan hidup bahwa silat hanyalah suatu cara untuk saling bermusuhan. 
   Setelah kau menolongku waktu itu, aku justru dihinggapi rasa tidak tenteram. Aku selalu khawatir sewaktu-waktu kau diserang gerombolan orang yang pernah kau buat memar wajahnya itu.
    Pasti ada dendam dalam dada orang itu. Padahal, jika saja kau tak menolong, aku bisa saja bersiasat menghadapi berandal itu dengan kepura-puraan untuk bersedia disetubuhi di lain waktu.
   Akan aku katakan padanya: memperkosa itu tidak lebih baik daripada olah asmara di bawah purnama muda dan aku akan menyerahkan seluruh isi dada. Aku yakin, berandal beringasan itu akan menahan berahinya demi kepuasan badani yang diimpi-impikannya akan lebih dahsyat, tapi tidak akan pernah ia dapat. 
   Siasat, Kakang, siasat lebih hebat daripada silat.
   Kakang, tiap kali melihatmu berlatih, aku selalu terpesona dengan dada bidang, tangan kekar, rambut panjang tergerai damai, dan tentu ketangkasan gerak tubuhmu.
    Namun, aku justru selalu merindukan tubuhmu itu diam. Mematung serupa arca Wisnu. Ketika tubuh gagah itu diam, mungkin aku bisa memelukmu. Menaruh kepalaku di atas dada bidangmu dan mendengarkan perkataanmu langsung dari dada. Jika demikian, aku mengharap sekali tanganmu membelai rambutku, begitu damai, begitu nyaman. 
   Apa kau tak pernah mengerti hal-hal semacam itu, Kakang? Ingatkah rajukanku sesaat setelah kau selamatkan aku dari berandal desa?
   "Kang, peluk aku, Kang. Peluk aku, Kakang. Ini saat-saat yang paling kuimpikan."
   Tapi, kau begitu dingin menolak rajukanku. Memeluk, hanya memeluk, dan kau tak memberikannya. Kau justru menghajar Dwipangga ketika ia telah memberikan pelukan terlekatnya padaku di sebuah bangunan tempat kita biasa menghabiskan senja.
    Setelah memukul Dwipangga, kau hina kami sebagai manusia rendahan yang tak bermoral sembari membanggakan diri sebagai manusia suci. 
   Kakang Kamandanu, 
   Apakah kau masih sering mengatakan kata-kata kasar seperti jahanam, bedebah, dan bajingan? Sesering dulu aku mendengar kata-kata kutukan semacam itu dari mulutmu, meskipun bukan untukku? Dulu, begitu keras kau mengucapkannya seperti mewakili kerasnya hatimu. Selama kita berkasmaran, sekalipun tak pernah keluar kata-kata indah dari mulutmu.
   Rindu dan cinta, barangkali hanya dua kata yang sekali genggam rontok di tanganmu. Kau tak pernah mengatakan aku cantik atau mengatakan gelungan rambutku indah. Bahkan, sekadar memuji pakaian yang kukenakan pun kau seperti tak mampu.
   Aku tak gila puji, tapi ingin sekali saja kau menghargai penampilanku yang selalu kusiapkan sesempurna mungkin untuk bertemu denganmu. 
   Kakang, selama ini aku lebih banyak diam, menyimpan isi hati rapat-rapat agar kau bahagia saat kita bersama. Aku lebih banyak menuruti caramu dalam berhubungan.
   Pagi hari kita bersama di sungai. Kau berlatih silat di atas batu-batu kali, sementara aku mencuci pakaian. Senja hari kita berkejaran naik kuda mengelilingi Desa Manguntur dan Kurawan. Hampir setiap hari kita melakukannya dalam sepekan.
   Kau tahu, Kakang, kebersamaan kita itu lebih banyak merentangkan batas. Ketika kau berlatih di atas batu kali, pikiranmu pasti mengarah ke gerakan-gerakan jurus silat.
   Sementara, aku harus benar-benar memperhatikan apakah cucianku sudah bersih atau belum. Aku harus selalu bersikap hati-hati kalau-kalau ada baju yang hanyut di sungai meskipun aku yakin, tanpa kuminta, kau pasti akan mengejarnya jika ada yang hanyut.
   Di saat-saat pagi hari seperti itu kita memang sesekali saling berpandangan, tersenyum beberapa jenak, lalu kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.  
    Padahal, kau bisa saja mendekat, memelukku dari belakang, lalu kita cuci bersama baju-baju itu, sebelum akhirnya kita turut mencuci diri di sungai. Bersama, bersama-sama, di dalam air. 
   Banyak senja kita habiskan dengan berkuda melewati pematang dan candi-candi. Kadang aku di depan, seringkali aku di belakang. Kita berkejaran. Aku tertawa renyah meskipun dalam hati ingin sekuda denganmu: aku di depan, kau di belakang memelukku.
   Tapi, itu tak pernah terjadi. Dan, kebersamaan kita di kala senja seperti itu selalu diriuhkan derap kaki kuda dan ringkiknya yang lebih keras daripada suara tawa hingga kadang aku pura-pura tertawa padahal hanya membuka mulut, seperti orang tertawa, tapi tak mengeluarkan suara. 
   Kakang, sebab segalamu tentang kekerasan, aku mulai mencari seseorang yang dapat memelukku sembari memujiku dengan penuh kelembutan. Kau pun akhirnya tahu siapakah seseorang itu. Ia kangmasmu sendiri, Arya Dwipangga. 
   Entah siapa yang memulai asmara di antara kami, tapi saat itu aku menyalahkanmu. Kau menjadi pemantik asmara kami. Ketika kau tak memedulikan rajukanku untuk dipeluk, aku tersulut dan mulai terbakar sajak-sajak Dwipangga. Aku larut, hilang dalam puja-pujinya. Kata-katanya seperti ditulis di dadaku, begitu garit, demikian lekat. 

hujan turun dengan sedihnya
bulan tenggelam di atas telaga
kulewati malam yang dingin ini
sambil kubelai namamu bagaikan kembang

oh Nariratih, oh Ratnandana, sinar teja di pelupuk mata
Nariratih, di mana kau sembunyikan harum wajahmu
di mana kau simpan desah napasmu
solah bawahmu halus bagaikan rajakanya
pribadimu elok bagaikan puspitansa *)

   Sampai akhirnya kami pun larut dalam olah asmara di sebuah senja, di tempat biasa kita berdua. 

   Aku menyesali perbuatan kami itu sebelum kau datang dan menghajar Dwipangga di hadapanku. Kau tahu, saat itu aku lebih memilih memanggilmu yang berlari dengan kuda daripada memperhatikan Dwipangga yang ada di sisiku, yang memar oleh pukulanmu.
   Tapi, kau tak mau mendengar dan mengerti panggilanku. Kau terus saja memacu kudamu ke arah senja seperti mengejar matahari.
   Setelah pertengkaran sore itu, kita baru bertemu di pesta pernikahan. Aku dan Dwipangga duduk di pelaminan, sementara kau terus menatap ke arahku dengan dada membusung.
   Kau terlihat mengembus napas panjang yang entah cemburu pada kangmasmu atau marah kepadaku. Ah, embus napasmu sungguh kuat hingga sesekali aku melihatnya mampu merundukkan pijar-pijar api di atas bambu yang dipacak sekitar pelaminan dan pelataran yang ramai oleh nayaga, para sinden dan ledek, serta tamu-tamu. 
   Kau pasti ingat, malam itu, ketika alunan gamelan yang berbunyi sejak senja tiba-tiba berhenti, sepasukan prajurit Singosari datang.
   Sungguh, saat itu aku sangat berharap Dwipangga terlibat suatu kejahatan dan malam itu juga akan dibawa ke kotapraja dihukum. Apa pun yang terjadi, malam itu aku sangat berharap ada sesuatu yang membatalkan pernikahan kami. 
   Nyatanya, pasukan itu justru mengawal utusan Singosari bernama Kebo Tengah untuk memberi hadiah pernikahan. Sekotak peti berukir yang tak aku tahu isinya apa. 
   Seolah mewakili ketaksukaanku, kau memukul peti itu ketika Kebo Tengah sedang memberikannya kepada ayahmu, Hanggareksa. Seluruh isinya jatuh dan berserakan tanpa kau pedulikan.
   Justru Dwipangga yang kelabakan mengumpulkan seluruh isi peti berupa uang kerajaan yang ada di tanah tinimbang mengejarmu sebagai seorang kakak yang ketakutan akan kehilangan adik. 
   Namun, sekali lagi, aku meragu, aku tak tahu, apakah kau marah kepada utusan Kertanegara yang congkak itu, atau kepada kami hingga kau merusak hadiah pernikahan itu? 
   Kau kembali pergi, aku kembali berteriak memanggil namamu.
   Suara ramai pesta kembali tersaji. Alunan gamelan dan suara-suara orang menari bersama ledek sorak kembali. Percakapan tamu-tamu yang dimabuk tuak makin marak. Tapi, seriuh apa pun suasana saat itu, tak mampu meredam suara hatiku yang terus berteriak memanggili namamu. 
   Sejak malam pernikahanku dengan kangmasmu itu, aku kembali jatuh cinta padamu, Kakang.
   Dan, malam ini, ketika lagi-lagi aku tak bisa tidur karena memikirkanmu, aku memberanikan diri menulis surat ini padamu di atas daun lontar dan tinta yang hampir kering karena Dwipangga tak lagi menulis sajak untukku sejak malam pernikahan.
   Nari Ratih sudah rampung membaca ulang suratnya. Ini adalah surat terpanjangnya, kalau bukan yang terakhir, yang setiap malam ia tulis. Ia lalu menggulungnya dengan rapi. Mencabut sehelai rambut panjangnya untuk mengikat gulungan itu, dan perlahan-lahan, seperti yang setiap malam ia lakukan, memasukkanya ke dalam tungku api.
   Selesai membaca, Wibowo terdiam mematung bagai arca pualam yang tak bernyawa, namun gemuruh di dadanya serasa membuat sesak dan paru-parunya seakan tak cukup oksigen, serasa pengap dan sempit dadanya.
   Hmmm, Wibowo paham, kayaknya cewek itu tak serumit yang ia kira, hanya ingin di puji cantik dan di belai mesra dengan bisikan lembut, hmmm, tapi apakah ia berani melakuakn hal ini pada Hesti, huft, ia galau lagi.
  Ia off google, ia matikan internet, minum kopinya yang sudah dingin, sedingin hatinya yang galau karena akan di tinggal nikah oleh gadis yang diam-diam ia cintai sejak bangku SMA.
   Lama Wibowo duduk terdiam, larut dalam lamunanya, sementara satu dua kawan-kawanya masih asyik tertawa-tawa cekakakan karena larut dalam permainan gempabji, tak tahu jika ia sedang galau tingkat dewa 20.
   Jika anda atau panjenengan jadi Wibowo, apa yang akan panjenengan lakukan.
a.       Menghajar cowok brengsek yang akan menikahi Hesti, menghajar sampai bonyok-bonyok wajahnya yang jika senyum sangat nampak super duper mesum sekali.
b.      Mengirimkan ilmu teluh agar cowok itu meninggal cepat, singkat dan tak bertele-tele.
c.       Menemui Hesti dan nembak dia, mungkin ada kesempatan kedua setelah ia mengungkapkan fakta-fakta bahwa calonya itu penjahat kelamin, bajingan tingkat dewa 20.
d.      Jawab a, kemudian saya lakuakan c.
e.       Jawab b kemudian saya lakukaan c.
f.       Menemui Mbah Man, mohon petunjuk, apapun saran nasihat beliau, insyaallah saya Sami’na Wa Atho’na, sendika dawuh saja.
g.      Diam saja, karena saya juga sama-sama takut tidak pernah berani nembak cewek.
h.      Jawaban lain, dan hanya saya dan Tuhan yang tahu.
i.        Tidak menjawab, karena saya sudah punya pacar/isteri/tunangan, yang saya cintai lahir batin dunia akhirat.
j.        Hmm..apa ya, bingung juga sih, ..apa yaaa…..eehmmmmm….(masih mikir dulu sampai masa jabatan pak Jokowi berakhir).
k.      Pasrah aja dah, gimana Takdir Tuhan sajalah….!!!.
l.        ( jawaban bebas…..panjenengan isi sendiri kolom jawabanya).
m.    Saya malu menjawab, silent rider saja ah.
n.      Saya jempolin saja ah status ini.
o.      Tidak tahu, terserah pengarangnya saja mau dibawa kemana nasib cinta Wibowo terhadap Hesti, bagusnya hepi ending saja, calon Hesti mati disengat tawon vespa atau tawon ndas yang bikin sarang di loteng rumahnya, saat mbetulin genteng rumah agar tak bocor saat hujan, karena terpaksa, sebab rumahnya akan segera didatangi utusan pihak pengantin perempuan di musim hujan ini, utusan yang akan memberikan jawaban lamarannya dan kalau calon Hesti sudah mati disengat tawon Ndas (okum karma karena ia suka “menyengat” cewek-cewek setelah bengkak lalu ditinggal lari, kayak kelakuan tawon), sehingga pula tokoh fiksi yang bernama Wibowo bisa fix menggantikan posisi sang calon suami Hesti yang tewas mengenaskan bengkak sekujur tubuhnya akibat racun tawon Ndas itu, sehingga kursi pelaminan jadi milik Wibowo, taraaanggg…Wibowo dan Hesti bisa menikah sodara-sodara, mantap punya toh!.
(bukan berarti berbahagia di atas kematian serta jasad cowok mata keranjang itu lho, tapi sebatas fiksi saja kan ndak apa-apa).
Kami tunggu jawaban anda dan panjenengan semua!!!.

Salam sejiwa raga, WIRO YUDHO WICAKSONO-RUMONGSO HANDARBENI HANGRUNGKEPI NGULAT SARIRO HANGROSO WANI-SURO DIRO DJOYONIGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI.

Trisula Kembar

Sepasang Trisula Kembar, senjata yang menjadi lambangIkatan Pencak Silat Indonesia